cerpen

By marlingga

Indahnya Ramadhan

Bumi bersinar biru menghiasi angkasa raya. Bulan memantulkan benderang sinar mentari, berseri. Namun, dari bawah sana, langit terlihat kelabu. Tanpa cahaya bulan, hanya bintang-bintang bersinar remang. Secercah cahaya merah terpancar rendah di ujung timur dunia. Menenggelamkan kumandang adzan shubuh yang semakin hilang. Bayu menghembuskan nafasnya. Menyeka tiap tetes keringat yang bercucuran di hati para insan yang pulang dari perjalanannya mengejar Lailatul Qadr.

Seluruh rumah lelap dalam kegelapan tanpa cahaya lampu. Kecuali rumah kecil di ujung gang. Cahaya lampu kamar yang redup bersaing dengan lampu-lampu jalan yang berjajar sepanjang gang. Rumah dengandua kamar itu terselimuti kabut yang menggelantung rendah, seperti rumah-rumah lainnya. Kamar depan dijadikan warung oleh Ibu Martiyah, sang pemilik rumah, masih gelap gulita. Di pintunya tertempel kertas kecil bertuliskan “TUTUP”. Di kamar sebelah, Ibu Martiyah baru saja selesai mengerjakan shalat. Rambutnya yang kemerahan terlindungi romal putih yang membuat kulit wajahnya semakin gelap. Matanya sipit. Bibirnya pecah-pecah, kering. Benar-benar tidak menggambarkan usia sebenarnya yang baru menginjak tiga puluh tahun. Apalagi saat melihat kondisi badannya yang kurus. Tapi jangan salah, di dalam dirinya tersembunyi kekuatan yang membuatnya mampu pergi ke pasar –jalan kaki- setiap hari untuk membeli keperluan warung makannya yang tidak lagi ia buka sejak awal bulan Ramadhan. Dan dengan kekuatan itu pulalah, ia bertekad akan mudik ke tempat ibu mertuanya. Sekaligus memberitahukan kabar suaminya yang telah meninggal beberapa bulan lalu, karena tidak ada biaya ia belum sempat mengabarkannya ke sanak keluarga suaminya di desa.

“Syid! Rasyid!” serunya datar, menggoyang-goyang badan Rasyid, anak pertamanya, lirih. Melihat anaknya yang masih tidur pulas, ia beralih memasukkan pakaian-pakaian ke dalam tas hitam yang tergeletak di pinggir satu-satunya tempat tidur di rumah itu.

Lemari pakaian di pojok kamar telah kosong, semua pakaian telah ia masukkan ke dalam tas. Bukan karena ia akan tinggal lama di kampung suaminya sehingga membawa semua pakaian yang ia punya. Namun, karena hanya ada beberapa potong pakaian yang ia punya.

“Rasyid! Rasyiiid!” serunya lagi.

Rasyid terbangun. Dengan wajah lusuh dan rambut yang amburadul, ia duduk di samping ibunya. Menyandarkan kepala ke tubuh ibunya. Matanya terpejam lagi.

Ibu Martiyah memeluk anaknya dengan penuh kehangatan. Anak yang selama ini –sejak suaminya meninggal- selalu membantunya berbelanja di pasar. Sampai-sampai kulit anaknya hitam menyerupai kulit tubuhnya. “Kita akan berangkat ke rumah Simbah,” ucapnya lirih mengusap kepala Rasyid. “Sana! Cuci muka dulu.”

Dangan langkah gontai, Rasyid berjalan ke belakang. Tak lama berselang, ia kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas pangkuan ibunya yang sedang berkemas-kemas. Di wajahnya masih tergambar rasa kantuk yang berat.

“Makan dulu. Itu sudah Ibu siapkan,” jemarinya menunjuk ke arah meja makan di dekat pintu yang menghubungkannya ke kamar sebelah –warung. Di atas meja telah tertata sepiring nasi dengan sepotong tempe kedelai yang tidak jadi ia makan saat sahur tadi. Ketika Rasyid makan, ia menggendong Zahra, anak perempuannya. Dengan sabar, ia mencoba menenangkan Zahra yang merasa tidak nyaman ia angkat dari tempat tidur.

Zahra berlindung dalam pelukan ibunya dari dingin fajar yang menyeruak dari celah-celah dinding kayu. Ia baru berumur satu setengah tahun, dua tahun lebih muda dari kakaknya, Rasyid. Rambutnya ikal dan tidak lebat, persis seperti rambut ayahnya, tertutup kerudung putih yang melekat indah di kepalanya.

Semua lampu telah dimatikan. Gelap menyelimuti seluruh pandangan. Jutaan angin berhembus menghantam sosok-sosok tubuh yang berdiri di depan pintu rumah Ibu Martiyah yang tidak lain adalah Ibu Martiyah sendiri bersama dua orang anaknya. Digenggam erat tangan Rasyid dengan tangannya. Sementara Zahra ia gendong di pundaknya. Di pundak yang lain tergantung tas hitam yang berisi perbekalan perjalanan panjang ini.

Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Ibu Martiyah melangkahnya diikuti tapakan kaki Rasyid di sebelah. Tekadnya benar-benar sudah bulat. Sebulat purnama yang menyinari rumahnya beberapa hari lalu di pertengahan bulan. Ia berdiri sesaat di gang sempit tepat di depan rumahnya. Menatap rumah yang akan ia tinggalkan, sederhana. Lalu, dengan mantap kembali berjalan dalam balutan langit yang masih kelam, tapi sudah jelas untuk sekedar mengenali wajah tetangganya.

“Mudik, Bu?” tanya seseorang. “Gasik pisan?

“Iya.” Ibu Martiyah berhenti, “Biar tidak kemalaman.”

“Rasyid di sini saja sama Pakde. Tidak usah ikut,” ujar satu orang lainnya.

Rasyid menggelengkan kepala. “Nggak, Rasyid ingin ketemu Mbah,” balas Rasyid sembari menarik tubuh ibunya.

“Titip rumah, Bu. Mari, Pak!” Ibu Martiyah melangkah penuh perasaan lega melihat tingkah Rasyid yang tidak sedikitpun keberatan dengan perjalanan yang akan mereka lalui.

“Ya, hati-hati di jalan,” tetangganya mengangguk.

Kabut yang menggantung rendah membuat tubuh mereka begitu cepat menghilang.

***

Ibu Martiyah terus berjalan. Tak sedetik pun ia melepas genggaman tangannya dari Rasyid. Serta tak pernah luput perhatiannya kepada Zahra yang ‘mengikuti’nya, tertidur lelap dalam gendongan.

Udara dingin semakin menghangat. Mentari telah menorehkan tinta-tinta gambaran kehidupan, menyengat. Kabut-kabut fajar berganti dengan kepul-kepul asap hitam yang pekat. Dalam perjalanan yang semakin berat, tangan kanan Ibu Martiyah memeluk erat Zahra yang mulai bergeliatan. Tangan kirinya lekat memegang Rasyid. Tas hitam masih di pundaknya.

Kini, kaki Ibu Martiyah menapak di tepi jalan panjang. Kanan kirinya dipenuhi bangunan-bangunan bertingkat dengan pohon-pohon hijau dipelataran yang sesak oleh mobil-mobil mewah. Kendaraan yang berseliweran memantulkan cahaya mentari yang menyilaukan. Ia tertegun. Diam. Bukan karena bangunan-bangunan yang tinggi. Bukan karena pula mobil-mobil mewah. Ia berdiri mematung, saat matanya tepat memandang sepasang mata di hadapannya. Begitu dekat. Ditatapnya sepasang mata itu dengan penuh ketelitian. Bersinar. Berseri. Penuh dengan keberanian. Titik kecil di dalam mata itu memperlihatkan sebuah harapan besar. Sama seperti matanya. Ya, seperti matanya. Seperti yang pernah suaminya ucapkan di setiap waktu-waktu pacaran dulu. Masya Allah! Jerit hatinya. Memandang rambut hitam yang pendek terurai sepundak. Kemudian, ia beralih ke tangan yang memegang setumpuk kertas di depan dada. Dan tangan yang lain menenteng koper hitam yang terlihat membengkak penuh dengan berkas-berkas. Ia menatapnya seperti menatap bayangannya di cermin.

Sejurus kemudian ia terkesiap. “Maaf, Bu,” ucapnya lirih.

Wanita yang ada di hadapan Ibu Martiyah hanya diam. Mengambil satu langkah di sisi kiri Ibu Martiyah. Melangkah tanpa satu kata. Wanita itu melangkah begitu cepat. Terus memandangi kertas-kertas yang dipenggangnya.

Mata Ibu Martiyah yang tak lepas mengikuti kepergian wanita itu. Memperhatikan bagaimana wanita itu dengan cepat berjalan sambil menunduk. Ibu Martiyah hampir menjerit spontan saat melihat wanita yang hampir ia tambrak tersandung bak sampah. Dengan cepat ia memalingkan wjahnya sebelum ketahuan oleh wanita itu, pura-pura tidak melihat. Tersemat tawa kecil di bibirnya yang kering. Kini, matanya menatap wanita lain di seberang jalan. Tidak seperti wanita yang pertama, wanita ini berjilbab dan lebih muda. Mengenakan celana panjang. Entah didorong perasaan apa, Ibu Martiyah tak mau melepaskan pandangan dari wanita muda berjilbab yang dengan tangkasnya menyeberang jalan. Bahkan, saking seriusnya memperhatikan wanita berejilbab, Ibu Martiyah mempercepat langkah kakinya secepat wanita itu berjalan. Sampai-sampai Rasyid tak mampu mengikutinya. Dan ia tersadar akan tingkahnya. Wanita itu hilang di balik pintu taksi yang berkaca hitam. Ia tidak bisa seleluasa itu.

Tapi … Di mana suami-suami mereka? … Di mana anak-anak mereka? Mengapa tidak bersama? Siapa yang menjaga? Siapa yang mendidik? Siapa yang merawat? Siapa yang mencurahkan kasih sayang? Gerutu hati Ibu Martiyah masih dalam ketidak tahuan dorongan apa yang membuatnya seperti itu. Apa mereka tidak punya anak? Sayang sekali. Ibu martiyah menatap lekat-lekat wajah kedua anaknya. Rasyid serta Zahra yang telah terjaga. Padahal, sungguh sebuah kebahagian yang tak terkira saat melihat anak-anakku bertingkah lucu dalam pengawasanku. Ia tersenyum. Memandangi wajah anak-anaknya. Tapi, kebahagiaan itu sesuatu yang relatif. Tiba-tiba hatinya mengatakan kata-kata yang ia sendiri tidak mengerti. Relatif. Apa itu relatif?

Ibu Martiyah mengencangkan genggaman dan dekapannya.

Puluhan jalan telah terlewati. Gedung-gedung berganti dengan sawah-sawah. Berganti menjadi tanah kosong yang lapang. Berganti lagi menjadi pemukiman-pemukiman. Dan terus berganti. Namun, tidak sedikitpun ia mengendorkan genggaman dan pelukannya, apalagi melepaskannya. Berkali-kali ia menatap wajah Rasyid yang mulai mengkilap terlapisi keringat. Berkali-kali pula ia mengecup kening Zahra yang mulai merengek kepanasan dan kehausan. Air susunya sudah kering.

“Bu, lelah,” keluh Rasyid. Matanya berbinar-binar penuh butiran air di setiap sudutnya. Sekonyong-konyong ia duduk di atas bak sampah di dekatnya. Disekanya gumpalan air yang terasa bagai butir pasir.

Ibu Martiyah menuruti kemuan Rasyid. Ia pun sebenarnya sudah tidak kuat. Wajahnya sudah sangat pucat. Seharian ia belum makan, juga tidak sahur, walau sekedar sesuap nasi. Apalagi ia harus memberi ASI untuk Zahra. Tapi, ia tidak memperlihatkan rasa kecewa, lelah dan putus asa. Ia meletakkan tas hitam dari pundaknya yang sakit tak tertahan. Diambilnya botol minuman, ia berikan kepada Rasyid. Ia masih bertekad meneruskan puasanya. Dikibas-kibaskan ujung selendang untuk menghilangkan panas dan tenggorokan yang kering.

Zahra masih terus merengek. Bahkan lebih keras.

Ibu Martiyah merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Ia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Tapi, keinginannya membentur wajah Rasyid yang sangat kelelahan. Ditatapnya wajah anak laki-lakinya, tak ada lagi keceriaan seperti tadi pagi.

Rasyid terduduk. Diam. Matanya menatap ujung jalan. Perlahan ia beralih ke ujung lainnya. Ingatannya mencoba membuka kembali masa silam saat ia dan ibunya melakukan perjalanan ini bersama ayahnya. Bertiga mengendarai sepeda motor. Tapi, sepeda motor itu kini telah dijual. Ibunya tidak mampu memperbaiki sepeda motor yang rusak dalam kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya.

“Rasyid! Ayo, jalan!” seru Ibu Martiyah. Meletakkan tas hitamnya ke pundak. Didapatinya Rasyid masih terdiam. Setetes air mata mengalir di pipinya yang hitam penuh keringat. Segera ia menyapunya sebelum terlihat oleh Rasyid.

Tanpa melirik sedikitpun ke arah ibunya, Rasyid membiarkan tangannya digenggam. Tangan yang lain memainkan botol minuman yang hampir habis. Langkahnya terlihat berat. Lelah. Kesal. Tapi, tidak mungkin untuk melawan.

Sinar mentari semakin melemahkan langkah kaki. Telapak terasa sakit tercabik-cabik. Ibu martiyah terus berusaha mendiamkan Zahra yang terus menangis. Dan menenangkan Rasyid yang terus-terusan berseru, “Bu, lapar! Lapar, Bu!” Nafas terengah-engah. Suara melemah, serak. Tak mungkin meminta Allah untuk merubah qadrat.

“Bu, lapar!” seru Rasyid untuk kesekian kalinya. Dengan nada datar.

Ibu Martiyah memandang wajah Rasyid yang tampak pucat. Tak kalah pucat dengan wajahnya yang tak dapat ia lihat. “Iya. Nanti kalau ada warung makan,” jawabnya. “Sekarang kita ke masjid dulu, sebentar lagi dhuhur.”

***

Sucinya udara Ramadhan mengalunkan gaung adzan kembali memasuki masjid. Mentari yang mulai condong tak mengendorkan sengatannya. Merangsek dalam menembus kulit-kulit tenggorokan. Haus. Kering. Lemas.

Ibu Martiyah merasakan resapan air wudhu di dalam kulitnya. Sejuk. Meleburkan setiap butir-butir kotoran di pembuluh darah. Mengalir ke satu titik di dadanya. Membangkitkan ketenangan sekaligus kerinduan yang mampu menghanyutkannya ke dalam kekhusyu’an yang tuma’ninah. Membangkitkan rasa hina sekaligus percaya dalam setiap rayuan doa.

Rasyid dan Zahra berlarian di serambi masjid. Berebut botol air minum yang telah kosong. Setiap kali Zahra merengek, Rasyid mendekatkan botol air minum yang dipegangnya. Dan setiap kali adiknya hampir menjangkaunya, dengan cepat ia menjauhkan kembali botol itu. Wajah mereka bersinar di bawah atap masjid yang megah. Terlindung dari cahaya mentari yang membahana.

Rasyid menghampiri Ibu Martiyah yang telah berdiri di depan pintu beberapa saat lamanya. Bersembunyi di balik tubuh ibunya. Tergurat senyum di wajah hitam wanita yang telah menginjak tiga puluh tahun itu. Zahra menyusul dari belakang dengan larinya yang belum sempurna. Jatuh di pelukan ibunya.

Ketiganya duduk berdampingan bersandar ke dinding. Sekedar merenggangkan otot-otot yang tegang. Melepas keletihan. Tak jauh dari tas hitam yang sejak pagi “membuntuti” mereka. Ibu Martiyah menatap lekat setiap sudut pelataran masjid. Penuh dengan atribut. Bendera. Spanduk berisi slogan-slogan dan tulisan-tulisan. Di antaranya “Tutup Tempat-Tempat Maksiat”, “Segel tempat Hiburan Malam”. Satu per satu atribut itu mulai diambil. Dibawa ke dekat kumpulan orang-orang yang berkerumun di halaman masjid. Semakin lama warna putih semakin membanjiri halaman masjid. Ternyata tidak hanya laki-laki. Ibu Martiyah mendapati beberapa perempuan ikut dalam kerumunan itu dalam barisan tersendiri. Perempuan! Ibu Martiyah berusaha meyakinkan hatinya melihat cadar-cadar yang menutup setiap wajah perempuan di sana. Alhamdulillah, puji hatinya. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan kesusahan ini. Ya, mereka tentunya tidak kalah haus, lelah dan letih seperti yang aku rasakan. Aku berjanji akan mempertahankan puasaku ini. Aku tidak akan mengkhianati kalian, seru hatinya. Wahai saudaraku!

“Ayo! Kita lanjutkan perjalanan,” ujar Ibu Martiyah penuh semangat. Seakan-akan mendapat tambahan tenaga.

“Oke!” ujar Rasyid. Ia langsung berjingkak. Mengangkat kedua tangannya.

Ibu Martiyah tesenyum. Diulurkan kedua tangannya ke arah Zahra, “Zahra!” serunya.

Dengan senyumnya ia segera berlari ke arah ibunya. Sempoyongan.

Ibu Martiyah dengan kedua anaknya berjalan di sisi kerumunan yang terkonsentrasi di halaman masjid. Ia semakin yakin bahwa sebagian dari mereka adalah perempuan. Ya, hampir setengahnya. Ia melempar senyum ke arah mereka sebagai penyemangat dan dukungan kepada saudara-saudaranya. Entah apa yang mereka tangkap, Ibu Martiyah tetap tersenyum ke arah mereka. Mereka seakan-akan tidak melihat kehadirannya. Diam. Tak memandang. Tapi, Ibu martiyah tetap tidak ambil pusing. Senyuman itu pun sangat berarti bagi dirinya. Yah, pembangkit semangat dalam menjaga warisan suaminya, kedua anaknya.

Baru saja sampai di tepi jalan di depan masjid, Zahra merengek kepanasan. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengibaskan ujung selendang di dekat kepala Zahra yang berkerundung kecil putih. Kaki Ibu Martiyah seperti tidak kenal lelah. Ia terus berjalan sembari tidak melepaskan perhatian dari anak-anaknya sedikitpun.

***

“Bu!” seru Rasyid. Menepuk perutnya yang semakin merasakan lapar. “Katanya ke warung makan.” Rasyid mengarahkan tangannya ke deretan warung-warung di tepi jalan.

“Ayo!” seru Ibu Martiyah. Tak tega membiarkan anaknya dalam kelaparan. Berjalan ke arah yang ditunjuk Rasyid. Ia memasuki warung makan. Puluhan pasang mata serentak menatap sinis ke arahnya. Tatapan yang membuatnya merasa dipojokkan. Ia tidak menyangka akan ada orang sebanyak itu. Kenapa mereka menatapku –seperti itu? Apakah karena aku berjilbab?! Sehingga tidak pantas berada di sini –di bulan Ramadhan. Ataukah … Ya, mereka menatapku hanya karena simpati mendengar Zahra yang menangis keras, ujar hatinya meyakinkan dirinya. Tapi, masih saja tidak nyaman. Mengapa mereka hanya menatap? Bukankah lebih baik jika mereka berucap? Rasa malu dan gugup di hatinya mengantarkan kaki duduk secepat mungkin di kursi terdekat. Meja paling dekat dengan pintu. Paling dekat dengan dinding sekaligus dengan jendela. Tak henti-hentinya ia berusaha menenangkan Zahra, tapi tidak mungkin karena air susunya telah kering. Aku harus makan, tapi aku telah berjanji. Ini untuk anakku… Pikirannya mulai berkecamuk.

Pelayan datang. Membawa kertas dan alat tulis.

Ibu Martiyah menatap mata pelayan itu. Didapatinya tatapan yang sama seperti tatapan orang-orang di sana. Beralih ke wajah Rasyid yang duduk di depannya. Setelah mendapat isyarat dari ibunya, Rasyid memesan makanan yang ia inginkan. Kini, pelayan itu manatapnya lagi. Masih dengan tatapan yang sama. Ya Allah! Bukannya aku ingin mempermainkan ibadah ini, ucap hatinya datar. Memesan makanan.

Ibu Martiyah menatap keluar di sela-sela pintu yang terbuka. Sambil terus mengayun-ayunkan tangan menenagkan Zahra yang menangis tersedu-sedu. Kendaraan berlalu lalang dalam kebisingan. Gedung-gedung dan pertokoan berdiri kokoh di seberang jalan. Setiap kali ia menatap sudut-sudut ruangan itu, didapatinya tatapan seperti saat pertama ia datang. Secepat kilat ia memalingkan wajahnya ke luar. Dan yang didapatinya hanya gedung dan pertokoan.

Pelayan yang sama kembali. Ibu Martiyah tak mampu lagi menatap wajahnya. Tak ingin mendapati tatapan yang membuatnya merasa dipersalahkan. Pelayan meletakkan dua piring nasi di atas meja lengkap dengan lauknya serta dua gelas minuman. Tanpa pikir panjang, Rasyid menyambar makanan yang dihidangkan. Ibu Martiyah menggeleng dengan melempar senyum kecil ke arah Rasyid. “Baca doa dulu,” ucapnya.

Seketika Rasyid berhenti mengunyah. Dengan mulut penuh makanan ia menengadahkan tangan.

Melihat tingkah anaknya, Ibu Martiyah tersenyum. Ia tidak juga memakan makanannya. Ia menyuapi Zahra dengan beberapa nasi, tapi Zahra membuangnya kembali. Pikirannya bertambah semrawut. Ia berikan minuman, tapi tetap tidak mau. Malah, Zahra menangis lebih keras. Ia butuh air susu, bisik hatinya. Aku harus makan, tapi …Ingatannya kembali ke masjid tampat ia melihat kerumunan orang-orang serba putih.

Wahai Saudaraku! Maaf, bukannya aku ingin mengkhianati kalian. Apalagi mengingkari janji. Tapi, ini demi anakku.

Baru saja ia mendekatkan sendok ke mulutnya, terdengar jeritan dari luar. Berbaur dengan teriakan-teriakan dan tangisan. Ia urungkan niat untuk makan. Matanya mengikuti pelayan yang melangkah menuju pintu.

“Preman ngamuk! Preman ngamuk!!”

Suara gemuruh semakin dekat. Semakin jelas diselingi bunyi benturan benda-benda keras. Tiba-tiba dengan naluri laki-lakinya, Rasyid berlari mengikuti pelayan ke depan pintu. Jeritan, teriakan, tangisan dan benturan semakin keras. Semakin dekat….

“Ada ninja! NINJAAA!” seru Rasyid keras sesaat setelah ia dapat menyaksikan dengan jelas puluhan orang dengan penutup kepala terlihat beringas tak jauh darinya. Hanya terpisah beberapa kios saja. Ia segera berlari ke arah ibunya.

“RASYID!!” seru Ibu Martiyah menatap Rasyid yang terlihat begitu ketakutan.

Dan… sejurus kemudian. BRAKK!! Daun pintu melayang. Menimpa Rasyid yang mencoba berlari. Rasyid menjerit, tapi langsung hilang ditelan suara berisik.

Ibu Martiyah menjerit tak kalah kerasnya. Terperanjak. Ia hampir melangkah ingin menyelamatkan Rasyid. Tapi, puluhan orang-orang berbaju putih sekonyong-konyong masuk menginjak-injak daun pintu yang menimpa anaknya. Ia menutup mulutnya yang ingin menjerit. Ia hanya dapat menagis. Takut. Sedih. Ia segera menggendong Zahra merapat ke tembok. Dipalingkannya wajah Zahra ke pundaknya. Tak dibiarkan anaknya melihat peristiwa seperti itu.

Suasana semakin gaduh. Ruangan dipenuhi teriakan-teriakan lantang, “ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!”. “Ayo bakar! Ayo bakar!” seru sebagian lainnya. Berbaur dengan jerit ketakutan dan tangisan Zahra.

Tangis dan air mata menemaninya menghadapi apa yang terjadi. Ia memeluk erat tubuh Zahra yang menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Matanya masih mencoba meraih wajah Rasyid di balik kaki-kaki yang ada. Ia terus merapat ke tembok. Menyandarkan tubuhnya dalam cahaya mentari dari jendela. Tangisannya semakin membisu. Tatapannya semakin tak menentu. Badannya mulai melemah tapi dipaksakan untuk tetap tegar. Dadanya semakin berdebar. Ia mengelus-elus kepala Zahra yang makin kencang dalam tangisan. Ruangan itu kini dipenuhi warna putih dengan suara-suara gaduh di mana-mana. Terdengar kursi ditendang. Terdengar pukulan keras disusul jerit dan tangis.

Orang-orang ‘asing’ itu memukul setiap orang yang didapatnya. Tak peduli laki-lak dan wanita. Anak-anak maupun dewasa. Ibu Martiyah masih menangis –hanya itu yang ia bisa- diiringi pecahan-pecahan kaca diseluruh sudut.

Dipaksakan matanya untuk menatap sepasang mata di balik penutup muka. Mata yang garang. Penuh dendam. Sepasang mata dari puluhan mata yang ia lihat di masjid usai shalat dhuhur. Ya, ia dapat melihatnya dengan jelas. Sebelum akhirnya terdengar keras pecahan kaca jendela di belakangnya. Serpihannya terasa sakit di punggung. Menancap dalam, menembus kulitnya. Sekuat tenaga ia mengangkat wajah Zahra yang tiba-tiba menjerit keras. Tubuhnya bergetar. Nafasnya sesak. Aliran darah mengucur kencang. Tulang-tulang tubuhnya seakan-akan remuk. Menatap wajah Zahra yang terkoyak-koyak oleh kaca-kaca kecil di sekujur kepalanya. Tetesan darah segar membasahi tubuhnya. Melumuri telapak tangannya. Membuatnya tak mampu berbicara. Rasa sakit di dalan tubuh dan hatinya tak lagi tertahan. Perlahan ia terkulai. Tak ada seorang pun yang peduli. Alam berubah sunyi, tanpa bunyi. Ia hanya dapat melihat orang-orang berbaju putih yang masih berkeliaran garang. Menjerit tanpa suara. Berteriak tanpa kata. Berbuat tanpa rasa.

Terbesit wajah Rasyid yang terjepit. Berubah hitam kelam. Seditik kemudian, giliran wajah Zahra tergurat penuh luka. Dan kembali gelap. Tanpa suara, pikirannya kedap suara. Tiba-tiba muncul wajah suaminya … Berganti dengan orang-orang serba putih yang masih belum pulih dari kegilaan. Perlahan pandangannya mengabur. Pikirannya tuli. Dalam kondisi yang memperihatinkan, tetap tidak ada yang memperdulikan. Ia masih dapat melihat, meskipun pudar. Menyaksikan keganasan –di bulan Ramadhan. Sungguh aku tak lagi menyesal jika harus mengkhinati kalian, Saudaraku. Sayang, aku belum sempat makan, sesal hatinya. Seditik sebelum ia menutup matanya, terdengar jeritan Rasyid yang menyatu dengan tangisan Zahra.

***

“Sampai sekarang, polisi belum melakukan tindakan apapun kecuali memeriksa TKP beberapa saat lalu. Padahal peristiwa anarkis ini telah memakan korban jiwa sebanyak tiga orang. Kepolisian belum memberikan informasi mengenai pihak mana yang terkiat dengan kejadian ini. Dan sampai sekarang juga belum ada pihak-pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden maut siang tadi.”

Layar televisi menampilkan sebuah sirang langsung. Seorang reporter pria dengan rambut cepak berbaju biru, berdiri tidak jauh dari TKP. Di belakangnya terlihat pita kuning bertuliskan “Garis Polisi” yang terpasang di sepanjang deretan rumah makan di tepi jalan. Gambar beralih ke sebuah lorong rumah sakit.

“Dari rumah sakit dilaporkan –.”

Seketika layar padam.

Seorang perwira polisi telah mematikan televisi di ruang kerjanya. Ia meletakkan remote control di atas meja. Tak ada ekspresi marah, tajut, benci maupun menyesal di garis-garis tegak wajahnya yang kotak. Dengan tenang, ia kembali menghisap rokoknya.

***

Sementara itu, di sebuah kamar rumah sakit, kamar dengan dinding berwana putih tanpa jendela, kecuali sepotong kaca yang terdapat di satu-satunya pintu di sana, terbujur tiga sosok tubuh di balik kain putih. Di beberapa titik, tampak tetesan darah. Di balik kain itu, tersembunyi satu wajah dengan senyum abadi terukir di kedua bibir yang selalu kering. Bibir Ibu Martiyah. Jauh di dalam sana –di hatinya – dapat didengar sekelumit ucapan,” Aku bangga dengan kalian anak-anakku. Bangga atas kesetiaan dan kepatuhan kalian dalam kebersamaan dan kesederhanaan yang kita lalui. Aku bangga pada keberanian dan ketabahan kalian.

Aku bangga dapat mengukir kebersamaan bersama kalian.

Suamiku, ketahuilah! Aku bangga karena Allah memanggilmu lebih dulu. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku yang meninggal lebih dulu. Bagaimana susahnya dirimu harus menyusui Zahra? Bagaimana kau dapat menjaga kedua anak kita setiap saat, sedangkan engkau harus bekerja?! Aku bahagia engkau tak harus mengalaminya. Allah sungguh adil dalam kehendak dan takdirnya. Namun, aku akan lebih bahagia jika kamu bersamaku menemani kami melewati jalan suci ini.”

Tinggalkan Balasan