lingkungan hidup

September 12, 2008

Lingkungan hidup

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Artikel ini perlu dirapikan atau ditulis ulang karena artikel ini bersifat global sedangkan isinya ditulis dalam definisi sempit dari negara atau wilayah tertentu.
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
(Gaya penulisan tidak standar Wikipedia, tidak rapi)
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifisasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

Lingkungan hidup dapat didefinisikan sebagai:

  1. Daerah di mana sesuatu mahluk hidup berada.
  2. Keadaan/kondisi yang melingkupi suatu mahluk hidup.
  3. Keseluruhan keadaan yang meliputi suatu mahluk hidup atau sekumpulan mahluk hidup, terutama:
    1. Kombinasi dari berbagai kondisi fisik di luar mahluk hidup yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan kemampuan mahluk hidup untuk bertahan hidup.
    2. Gabungan dari kondisi sosial and budaya yang berpengaruh pada keadaan suatu individu mahluk hidup atau suatu perkumpulan/komunitas mahluk hidup.

Istilah lingkungan dan lingkungan hidup atau lingkungan hidup manusia seringkali digunakan silih berganti dalam pengertian yang sama.

Apabila lingkungan hidup itu dikaitkan dengan hukum/aturan pengelolaannya, maka batasan wilayah wewenang pengelolaan dalam lingkungan tersebut harus jelas

Daftar isi

[sembunyikan]

//<![CDATA[
if (window.showTocToggle) { var tocShowText = "tampilkan"; var tocHideText = "sembunyikan"; showTocToggle(); }
//]]>

[sunting] Definisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.

Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

[sunting] Persetujuan Internasional Tentang Lingkungan Hidup

Indonesia termasuk dalam perjanjian: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah, Perubahan Iklim – Protokol Kyoto (UU 17/2004), Perlindungan Kehidupan Laut (1958) dengan UU 19/1961.

[sunting] Masalah lingkungan hidup di Indonesia

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor,limbah industri, limbah pariwisata, limbah rumah sakit.

Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara.

[sunting] Limbah Rumah Sakit

Merupakan hasil dari pemakaian peralatan kesehatan padat dan cair, bahan kimia dan bagian dari tubuh manusia yang tidak dapat digunakan lagi. Unit penghasil limbah di rumahsakit adalah semua unit yang menghasilkan limbah seperti loundri, dapur, unit kamar operasi, laboratorium, unit radiologi, apotek/farmasi, perkantoran, kantin dan lain sebagainya. pengolahan limbah padat dan cair dapat dilakukan dengan cara kimiawi dan cara tradisional, tetapi dalam standarisasinya menggunakan incenarator.

pendidikan nasional

September 12, 2008

Artikel:
Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan

Judul: Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Ngadirin
Saya Mahasiswa di Unersitas Negeri Jakarta
Topik: Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan
Tanggal: 8 Desember 2004
UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) SEBAGAI ISSUE KRITIS PENDIDIKAN
Nama : Ngadirin
No. Mahasiswa : 765 703 0338
Mata Kuliah : Issue-issue Kritis Pendidikan
Tahun Akademik : 2004/2005
Dosen : Prof. Dr. Soedijarto, MA
Program/Jurusan : S3/Manajemen Pendidikan
Perguruan Tinggi: Universitas Negeri Jakarta

1. Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.

Dengan demikian evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali.

Ujian akhir nasional (UAN) merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan Pemerintah yang, menurut pendapat saya, merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) yang sebelumnya dihapus. Benarkah UAN merupakan alat ukur yang sesuai untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan? Makalah ini mencoba untuk mengupas apakah evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab pertanyaan tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan. Pembahasan dimulai dari tujuan pendidikan, evaluasi, dan diakhiri dengan rekomendasi tentang perlu dan tidaknya evaluasi yang bersifat nasional.

2. Kurikulum dan Evaluasi

Sebelum berbicara tentang evaluasi, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang kurikulum sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mencakup fokus program, media instruksi, organisasi materi, strategi pembelajaran, manajemen kelas, dan peranan pengajar (Arieh Lewy, 1977:7-8). Di Indonesia sekarang sedang dikembangkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Kurikulum 2004, 2003 ¡V belum disahkan tetapi telah dipublikasikan baik via website maupun cetak oleh Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas).

Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam draft tersebut merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Selanjutnya dijelaskan bahwa kompetensi dapat diketahui melalui sejumlah hasil belajar dengan indikator tertentu. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual.

Cara mencapai kompetensi yang dibakukan disesuaikan dengan keadaan daerah dan atau sekolah. Berkaitan dengan hal ini dalam pelaksanaan kurikulum dikenal istilah diversifikasi kurikulum, maksudnya adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik.

Evaluasi yang diterapkan seharusnya dapat menjawab pertanyaan tentang ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Untuk mengingat kembali, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan

“bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3).

Dalam tujuan pendidikan di atas terdapat beberapa kata kunci antara lain iman dan takwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis. Konsekuensinya adalah evaluasi yang diterapkan harus mampu melihat sejauh mana ketercapaian setiap hal yang disebutkan dalam tujuan tersebut. Evaluasi harus mampu mengukur tingkat pencapaian setiap komponen yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Pertanyaannya adalah bagaimana pelaksanaan evaluasi pendidikan di Indonesia? Apakah evaluasi yang dipakai dapat menjawab semua pertanyaan tentang tingkat pencapaian tujuan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional? Pada bagian berikut akan dibahas penerapan sistem evaluasi di Indonesia dalam bentuk UAN.

3. UAN dan Permasalahannya

Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah.

UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkn pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting?

Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab semua informasi yang diperlukan dalam pencapaian tujuan? Apakah UAN dapat memberikan informasi tentang keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa? Apakah UAN dapat menjawab tingkat kreativitas dan kemandirian peserta didik? Apakah UAN dapat menjawab sikap demokratis anak? Dapatkah UAN memberikan semua informasi tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tersebut?

Evaluasi seharusnya dapat memberikan gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan tiga informasi penting yaitu penempatan, mastery, dan diagnosis. Penempatan berkaitan dengan pada level belajar yang mana seorang anak dapat ditempatkan sehingga dapat menantang tetapi tidak frustasi? Mastery berkaitan dengan apakah anak sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menuju ke tingkat berikutnya? Diagnosis berkaitan dengan pada bagian mana yang dirasa sulit oleh anak? (McNeil, 1977:134-135). UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan.

Dalam Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 terdapat ketidaksinambungan antara tujuan, fungsi, dan bentuk ujian. Pertama, bahwa pelaksanaan UAN bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes. Dari pernyataan tersebut muncul beberapa pertanyaan antara lain:

“« Dapatkah tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran memberikan gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik?

“« Dapatkah tes tersebut memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian?

“« Dapatkah tes tertulis melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak?

“« Dapatkah tes di ujung tahun ajaran menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya?

“« Bagaimana kalau terjadi anak sakit pada saat mengikuti tes?

“« Apakah hasil tes dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak selama mengikuti pelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk memperoleh jawabannya bila dengan hanya memberikan tes pada akhir tahun pelajaran. Hasil belajar bukan hanya berupa pengetahuan yang lebih banyak bersifat hafalan, tetapi juga berupa keterampilan, sikap, motivasi, dan perilaku yang tidak semuanya dapat diukur dengan menggunakan tes karena melibatkan proses belajar. Dengan kata lain terjadi pertentangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan bentuk ujian yang diterapkan, karena pengukuran hasil belajar tidak bisa diukur hanya dengan memberikan tes di akhir tahun pelajaran saja.

Kedua, tujuan ujian sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Mendiknas di atas adalah untuk mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Lagi pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan-pertanyaan di atas muncul, seperti apakah mutu pendidikan dapat diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun ajaran? Apalagi bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku siswa, apakah bisa dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu pendidikan pada tingkat nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi pelaksanaan UAN sebagaimana yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu disebut Ebtanas) berbeda dari tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka akibatnya tidak bisa dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan sekarang. Selain itu mutu pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya memberikan tes pada beberapa mata pelajaran ¡§penting¡¨ saja, apalagi dilaksanakan sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu pendidikan terkait dengan semua mata pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya pengetahuan koqnitif saja. UAN tidak akan dapat menjawab pertanyaan seberapa jauh perkembangan anak didik dalam mengenal seni, olah raga, dan menyanyi. UAN tidak akan mampu melihat mutu pendidikan dari sisi percaya diri dan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bersikap demokratis. Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu menyediakan informasi yang cukup mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang diinginkan masih terlalu jauh untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN.

Ketiga, ujian bertujuan untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Adalah ironis kalau UAN dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan pendidikan, karena pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang semuanya itu tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata lain, UAN belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.

Jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu ¡§diversifikasi kurikulum¡¨. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan kota-kota besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan penerapan UAN untuk semua sekolah di Indonesia telah melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidak adilan karena ibarat mengetes atletik tingkat pelatnas yang setiap hari dilatih dengan segala sarana dan prasarana termasuk pelatih yang memadai dengan atletik kampung yang memiliki sarana seadanya. Tentu saja hasilnya jauh berbeda, tetapi kebijakan yang diambil adalah menyamakan mereka.

Pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨ juga memiliki permasalahan tersendiri. Benarkah hanya matematika, bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran penting? Bagaimana kalau ada anak yang memiliki bakat untuk melukis, apakah itu berarti bahwa pelajaran seni jelas merupakan pelajaran penting bagi dia? Bagaimana juga dengan anak yang bercita-cita menjadi olahragawan yang berarti bahwa pelajaran olah raga merupakan pelajaran yang penting bagi dia? Kalau begitu kata ¡§penting¡¨ di sini untuk siapa? Pelaksanaan UAN pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung mengajarkan mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain, padahal tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari kondisi ini adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan pengujian.

Beberapa orang berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan kebijakan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Kebijakan UAN dilaksanakan bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah. Selain itu pada saat yang sama juga dikenalkan kebijakan otonomi sekolah melalui manajemen berbasis sekolah. Evaluasi sudah seharusnya menjadi hak dan tanggung jawab daerah termasuk sekolah, tetapi pelaksanaan UAN telah membuat otonomi sekolah menjadi terkurangi karena sekolah harus tetap mengikuti kebijakan UAN yang diatur dari pusat. Selain itu UAN berfungsi untuk menentukan kelulusan siswa. Padahal pendidikan merupakan salah satu bidang yang diotonomikan, kecuali sistem dan perencanaan pendidikan yang diatur secara nasional termasuk kurikulum. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan otonomi sekolah yang berhak meluluskan siswa adalah sekolah melalui kebijakan manajemen berbasis sekolah. UAN telah dijadikan alat untuk ¡§menghakimi¡¨ siswa, tetapi dengan cara yang tanggung karena dengan memberikan batasan nilai minimal 4.00. Dengan menetapkan nilai serendah itu, maka berarti bahwa standar mutu pendidikan di Indonesia memang ditetapkan sangat rendah. Kalau direnungkan, apa arti nilai 4 pada suatu ujian. Nilai 4 dapat diartikan hanya 40% dari seluruh soal yang diujikan dikuasai, padahal secara umum pada bagian lain diakui bahwa nilai yang dapat diterima untuk dinyatakan cukup atau baik adalah di atas 6. Dengan kata lain, UAN selain menetapkan standar mutu pendidikan yang sangat rendah telah ¡§menghakimi¡¨ semua siswa tanpa melihat latar belakang, situasi, kondisi, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar yang dialami terutama siswa di daerah pedesaan.

4. Bagaimana Evaluasi Pendidikan Seharusnya Dilakukan

Evaluasi harus mampu menjawab semua informasi tentang tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Pendidikan yang diarahkan untuk melahirkan tenaga cerdas yang mampu bekerja dan tenaga kerja yang cerdas tidak dapat diukur hanya dengan tes belaka (Soedijarto, 1993a:17). Untuk itu evaluasi harus mampu menjawab kecerdasan peserta didik sekaligus kemampuannya dalam bekerja. Sistem evaluasi yang lebih banyak berbentuk tes obyektif akan membuat peserta didik mengejar kemampuan kognitif dan bahkan dapat dicapai dengan cara mengafal saja. Artinya anak yang lulus ujian dalam bentuk tes obyektif belum berarti bahwa anak tersebut cerdas apalagi terampil bekerja, karena cukup dengan menghafal walaupun tidak mengerti maka dia dapat mengerjakan tes. Sebagai konsekuensinya harus dikembangkan sistem evaluasi yang dapat menjawab semua kemampuan yang dipelajari dan diperoleh selama mengikuti pendidikan. Selain itu pendidikan harus mampu membedakan antara anak yang mengikuti pendidikan dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan. Dengan kata lain evaluasi tidak bisa dilakukan hanya pada saat tertentu, tetapi harus dilakukan secara komperehensif atau menyeluruh dengan beragam bentuk dan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (Soedijarto, 1993b:27-29).

Bisakah UAN dipertahankan? Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa UAN banyak bertentangan bahkan dengan tujuannya sendiri, sehingga sulit dipertahankan. Seandainya Pemerintah tetap memilih untuk mempertahankan UAN maka selama itu perdebatan dan ¡§ketidakadilan¡¨ akan terjadi di dunia pendidikan karena memperlakukan tes yang sama kepada semua anak Indonesia yang kondisinya diakui berbeda-beda. Selain itu salah satu prinsip pendidikan adalah berpusat pada anak, artinya pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Seorang anak yang berpotensi untuk menjadi seorang seniman tidak bisa dipaksakan untuk menguasai matematika kalau dia sendiri tidak menyukainya dan berpikir tidak relevan dengan seni yang digelutinya. Memperlakukan semua anak dengan memberikan UAN sama artinya menganggap semua anak berpotensi sama untuk menguasai mata pelajaran yang diujikan, padahal kenyataannya berbeda.

Bagaimana evaluasi pendidikan yang sebaiknya dilakukan? Menurut pendapat saya, evaluasi sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Sistem penerimaan siswa pada jenjang berikutnya dilakukan dengan cara diberikan tes masuk oleh sekolah masing-masing. Dengan cara demikian, maka setiap sekolah akan menetapkan standar sendiri melalui tes masuk yang dipakai. Sekolah yang berkualitas akan memiliki tes masuk yang relevan, dan sekolah yang kurang bermutu akan ditinggalkan masyarakat. Selain itu sekolah yang menghasilkan lulusan yang tidak bisa menerobos ke sekolah berikutnya juga akan ditinggalkan masyarakat. Dengan demikian akan terjadi persaingan sehat antar sekolah dalam menghasilkan lulusan yang terbaik dalam arti dapat melanjutkan ke sekolah berikutnya. Sistem penerimaan dengan mengacu pada UAN akan berakibat pada manipulasi data, bahkan membuka peluang terjadinya kecurangan. Pada umumnya sekolah berlomba-lomba untuk meluluskan siswa-siswanya dengan cara memberikan nilai kelulusan yang tinggi. Tetapi dengan adanya tes masuk pada sekolah berikutnya (kecuali masuk SLTP harus lanjut karena masih dalam cakupan wajib belajar), maka sekolah akan berlomba untuk membuat siswanya disamping lulus juga diterima di sekolah berikutnya.

Sistem evaluasi yang diserahkan sepenuhnya ke sekolah bukan berarti tidak diperlukan pedoman atau petunjuk teknis. Pedoman untuk melakukan evaluasi tetap diperlukan dalam memberikan guidance bagi guru agar dalam melakukan evaluasi tetap mengacu kepada kaedah-kaedah evaluasi yang berlaku secara umum. Jika UAN tetap dipertahankan maka tujuan dan pelaksanaannya harus dimodifikasi. Sebagai contoh bahwa UAN bukan bertujuan untuk menentukan kelulusan siswa tetapi dipakai sebagai pengendalian mutu pendidikan. Artinya UAN tidak perlu dikaitkan dengan kelulusan siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pendidikan pada umumnya. Dengan tujuan ini maka standar nilai UAN haruslah minimal 6 sebagaimana pada umumnya dan hanya berpengaruh pada kredibilitas sekolah.

Sistem pelaporan hasil belajar dalam bentuk raport perlu direformasi dengan bentuk lain yang lebih komperehensif. Sebagai contoh apa arti seorang anak memperoleh nilai 8 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di raportnya? Apakah itu berarti anak tersebut menguasai pidato dengan baik, dapat menulis puisi, dan mampu berdebat? Informasi nilai yang ada diraport tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sehingga nilai raport perlu dimodifikasi sehingga dapat memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang kemampuan yang telah dimiliki anak. Sebagai contoh, bahwa untuk laporan hasil belajar bahasa Indonesia perlu mencakup kemampuan tentang membaca, berbicara, mengemukakan pendapat, kemampuan menulis, membuat karangan, berpidato, sikap menghargai orang lain, dan sebagainya. Hal yang sama dikembangkan untuk mata pelajaran yang lain. Model penilaian dengan menggunakan portfolio mungkin lebih baik daripada sistem raport yang digunakan saat ini.

cerpen

September 11, 2008

Indahnya Ramadhan

Bumi bersinar biru menghiasi angkasa raya. Bulan memantulkan benderang sinar mentari, berseri. Namun, dari bawah sana, langit terlihat kelabu. Tanpa cahaya bulan, hanya bintang-bintang bersinar remang. Secercah cahaya merah terpancar rendah di ujung timur dunia. Menenggelamkan kumandang adzan shubuh yang semakin hilang. Bayu menghembuskan nafasnya. Menyeka tiap tetes keringat yang bercucuran di hati para insan yang pulang dari perjalanannya mengejar Lailatul Qadr.

Seluruh rumah lelap dalam kegelapan tanpa cahaya lampu. Kecuali rumah kecil di ujung gang. Cahaya lampu kamar yang redup bersaing dengan lampu-lampu jalan yang berjajar sepanjang gang. Rumah dengandua kamar itu terselimuti kabut yang menggelantung rendah, seperti rumah-rumah lainnya. Kamar depan dijadikan warung oleh Ibu Martiyah, sang pemilik rumah, masih gelap gulita. Di pintunya tertempel kertas kecil bertuliskan “TUTUP”. Di kamar sebelah, Ibu Martiyah baru saja selesai mengerjakan shalat. Rambutnya yang kemerahan terlindungi romal putih yang membuat kulit wajahnya semakin gelap. Matanya sipit. Bibirnya pecah-pecah, kering. Benar-benar tidak menggambarkan usia sebenarnya yang baru menginjak tiga puluh tahun. Apalagi saat melihat kondisi badannya yang kurus. Tapi jangan salah, di dalam dirinya tersembunyi kekuatan yang membuatnya mampu pergi ke pasar –jalan kaki- setiap hari untuk membeli keperluan warung makannya yang tidak lagi ia buka sejak awal bulan Ramadhan. Dan dengan kekuatan itu pulalah, ia bertekad akan mudik ke tempat ibu mertuanya. Sekaligus memberitahukan kabar suaminya yang telah meninggal beberapa bulan lalu, karena tidak ada biaya ia belum sempat mengabarkannya ke sanak keluarga suaminya di desa.

“Syid! Rasyid!” serunya datar, menggoyang-goyang badan Rasyid, anak pertamanya, lirih. Melihat anaknya yang masih tidur pulas, ia beralih memasukkan pakaian-pakaian ke dalam tas hitam yang tergeletak di pinggir satu-satunya tempat tidur di rumah itu.

Lemari pakaian di pojok kamar telah kosong, semua pakaian telah ia masukkan ke dalam tas. Bukan karena ia akan tinggal lama di kampung suaminya sehingga membawa semua pakaian yang ia punya. Namun, karena hanya ada beberapa potong pakaian yang ia punya.

“Rasyid! Rasyiiid!” serunya lagi.

Rasyid terbangun. Dengan wajah lusuh dan rambut yang amburadul, ia duduk di samping ibunya. Menyandarkan kepala ke tubuh ibunya. Matanya terpejam lagi.

Ibu Martiyah memeluk anaknya dengan penuh kehangatan. Anak yang selama ini –sejak suaminya meninggal- selalu membantunya berbelanja di pasar. Sampai-sampai kulit anaknya hitam menyerupai kulit tubuhnya. “Kita akan berangkat ke rumah Simbah,” ucapnya lirih mengusap kepala Rasyid. “Sana! Cuci muka dulu.”

Dangan langkah gontai, Rasyid berjalan ke belakang. Tak lama berselang, ia kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas pangkuan ibunya yang sedang berkemas-kemas. Di wajahnya masih tergambar rasa kantuk yang berat.

“Makan dulu. Itu sudah Ibu siapkan,” jemarinya menunjuk ke arah meja makan di dekat pintu yang menghubungkannya ke kamar sebelah –warung. Di atas meja telah tertata sepiring nasi dengan sepotong tempe kedelai yang tidak jadi ia makan saat sahur tadi. Ketika Rasyid makan, ia menggendong Zahra, anak perempuannya. Dengan sabar, ia mencoba menenangkan Zahra yang merasa tidak nyaman ia angkat dari tempat tidur.

Zahra berlindung dalam pelukan ibunya dari dingin fajar yang menyeruak dari celah-celah dinding kayu. Ia baru berumur satu setengah tahun, dua tahun lebih muda dari kakaknya, Rasyid. Rambutnya ikal dan tidak lebat, persis seperti rambut ayahnya, tertutup kerudung putih yang melekat indah di kepalanya.

Semua lampu telah dimatikan. Gelap menyelimuti seluruh pandangan. Jutaan angin berhembus menghantam sosok-sosok tubuh yang berdiri di depan pintu rumah Ibu Martiyah yang tidak lain adalah Ibu Martiyah sendiri bersama dua orang anaknya. Digenggam erat tangan Rasyid dengan tangannya. Sementara Zahra ia gendong di pundaknya. Di pundak yang lain tergantung tas hitam yang berisi perbekalan perjalanan panjang ini.

Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Ibu Martiyah melangkahnya diikuti tapakan kaki Rasyid di sebelah. Tekadnya benar-benar sudah bulat. Sebulat purnama yang menyinari rumahnya beberapa hari lalu di pertengahan bulan. Ia berdiri sesaat di gang sempit tepat di depan rumahnya. Menatap rumah yang akan ia tinggalkan, sederhana. Lalu, dengan mantap kembali berjalan dalam balutan langit yang masih kelam, tapi sudah jelas untuk sekedar mengenali wajah tetangganya.

“Mudik, Bu?” tanya seseorang. “Gasik pisan?

“Iya.” Ibu Martiyah berhenti, “Biar tidak kemalaman.”

“Rasyid di sini saja sama Pakde. Tidak usah ikut,” ujar satu orang lainnya.

Rasyid menggelengkan kepala. “Nggak, Rasyid ingin ketemu Mbah,” balas Rasyid sembari menarik tubuh ibunya.

“Titip rumah, Bu. Mari, Pak!” Ibu Martiyah melangkah penuh perasaan lega melihat tingkah Rasyid yang tidak sedikitpun keberatan dengan perjalanan yang akan mereka lalui.

“Ya, hati-hati di jalan,” tetangganya mengangguk.

Kabut yang menggantung rendah membuat tubuh mereka begitu cepat menghilang.

***

Ibu Martiyah terus berjalan. Tak sedetik pun ia melepas genggaman tangannya dari Rasyid. Serta tak pernah luput perhatiannya kepada Zahra yang ‘mengikuti’nya, tertidur lelap dalam gendongan.

Udara dingin semakin menghangat. Mentari telah menorehkan tinta-tinta gambaran kehidupan, menyengat. Kabut-kabut fajar berganti dengan kepul-kepul asap hitam yang pekat. Dalam perjalanan yang semakin berat, tangan kanan Ibu Martiyah memeluk erat Zahra yang mulai bergeliatan. Tangan kirinya lekat memegang Rasyid. Tas hitam masih di pundaknya.

Kini, kaki Ibu Martiyah menapak di tepi jalan panjang. Kanan kirinya dipenuhi bangunan-bangunan bertingkat dengan pohon-pohon hijau dipelataran yang sesak oleh mobil-mobil mewah. Kendaraan yang berseliweran memantulkan cahaya mentari yang menyilaukan. Ia tertegun. Diam. Bukan karena bangunan-bangunan yang tinggi. Bukan karena pula mobil-mobil mewah. Ia berdiri mematung, saat matanya tepat memandang sepasang mata di hadapannya. Begitu dekat. Ditatapnya sepasang mata itu dengan penuh ketelitian. Bersinar. Berseri. Penuh dengan keberanian. Titik kecil di dalam mata itu memperlihatkan sebuah harapan besar. Sama seperti matanya. Ya, seperti matanya. Seperti yang pernah suaminya ucapkan di setiap waktu-waktu pacaran dulu. Masya Allah! Jerit hatinya. Memandang rambut hitam yang pendek terurai sepundak. Kemudian, ia beralih ke tangan yang memegang setumpuk kertas di depan dada. Dan tangan yang lain menenteng koper hitam yang terlihat membengkak penuh dengan berkas-berkas. Ia menatapnya seperti menatap bayangannya di cermin.

Sejurus kemudian ia terkesiap. “Maaf, Bu,” ucapnya lirih.

Wanita yang ada di hadapan Ibu Martiyah hanya diam. Mengambil satu langkah di sisi kiri Ibu Martiyah. Melangkah tanpa satu kata. Wanita itu melangkah begitu cepat. Terus memandangi kertas-kertas yang dipenggangnya.

Mata Ibu Martiyah yang tak lepas mengikuti kepergian wanita itu. Memperhatikan bagaimana wanita itu dengan cepat berjalan sambil menunduk. Ibu Martiyah hampir menjerit spontan saat melihat wanita yang hampir ia tambrak tersandung bak sampah. Dengan cepat ia memalingkan wjahnya sebelum ketahuan oleh wanita itu, pura-pura tidak melihat. Tersemat tawa kecil di bibirnya yang kering. Kini, matanya menatap wanita lain di seberang jalan. Tidak seperti wanita yang pertama, wanita ini berjilbab dan lebih muda. Mengenakan celana panjang. Entah didorong perasaan apa, Ibu Martiyah tak mau melepaskan pandangan dari wanita muda berjilbab yang dengan tangkasnya menyeberang jalan. Bahkan, saking seriusnya memperhatikan wanita berejilbab, Ibu Martiyah mempercepat langkah kakinya secepat wanita itu berjalan. Sampai-sampai Rasyid tak mampu mengikutinya. Dan ia tersadar akan tingkahnya. Wanita itu hilang di balik pintu taksi yang berkaca hitam. Ia tidak bisa seleluasa itu.

Tapi … Di mana suami-suami mereka? … Di mana anak-anak mereka? Mengapa tidak bersama? Siapa yang menjaga? Siapa yang mendidik? Siapa yang merawat? Siapa yang mencurahkan kasih sayang? Gerutu hati Ibu Martiyah masih dalam ketidak tahuan dorongan apa yang membuatnya seperti itu. Apa mereka tidak punya anak? Sayang sekali. Ibu martiyah menatap lekat-lekat wajah kedua anaknya. Rasyid serta Zahra yang telah terjaga. Padahal, sungguh sebuah kebahagian yang tak terkira saat melihat anak-anakku bertingkah lucu dalam pengawasanku. Ia tersenyum. Memandangi wajah anak-anaknya. Tapi, kebahagiaan itu sesuatu yang relatif. Tiba-tiba hatinya mengatakan kata-kata yang ia sendiri tidak mengerti. Relatif. Apa itu relatif?

Ibu Martiyah mengencangkan genggaman dan dekapannya.

Puluhan jalan telah terlewati. Gedung-gedung berganti dengan sawah-sawah. Berganti menjadi tanah kosong yang lapang. Berganti lagi menjadi pemukiman-pemukiman. Dan terus berganti. Namun, tidak sedikitpun ia mengendorkan genggaman dan pelukannya, apalagi melepaskannya. Berkali-kali ia menatap wajah Rasyid yang mulai mengkilap terlapisi keringat. Berkali-kali pula ia mengecup kening Zahra yang mulai merengek kepanasan dan kehausan. Air susunya sudah kering.

“Bu, lelah,” keluh Rasyid. Matanya berbinar-binar penuh butiran air di setiap sudutnya. Sekonyong-konyong ia duduk di atas bak sampah di dekatnya. Disekanya gumpalan air yang terasa bagai butir pasir.

Ibu Martiyah menuruti kemuan Rasyid. Ia pun sebenarnya sudah tidak kuat. Wajahnya sudah sangat pucat. Seharian ia belum makan, juga tidak sahur, walau sekedar sesuap nasi. Apalagi ia harus memberi ASI untuk Zahra. Tapi, ia tidak memperlihatkan rasa kecewa, lelah dan putus asa. Ia meletakkan tas hitam dari pundaknya yang sakit tak tertahan. Diambilnya botol minuman, ia berikan kepada Rasyid. Ia masih bertekad meneruskan puasanya. Dikibas-kibaskan ujung selendang untuk menghilangkan panas dan tenggorokan yang kering.

Zahra masih terus merengek. Bahkan lebih keras.

Ibu Martiyah merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Ia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Tapi, keinginannya membentur wajah Rasyid yang sangat kelelahan. Ditatapnya wajah anak laki-lakinya, tak ada lagi keceriaan seperti tadi pagi.

Rasyid terduduk. Diam. Matanya menatap ujung jalan. Perlahan ia beralih ke ujung lainnya. Ingatannya mencoba membuka kembali masa silam saat ia dan ibunya melakukan perjalanan ini bersama ayahnya. Bertiga mengendarai sepeda motor. Tapi, sepeda motor itu kini telah dijual. Ibunya tidak mampu memperbaiki sepeda motor yang rusak dalam kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya.

“Rasyid! Ayo, jalan!” seru Ibu Martiyah. Meletakkan tas hitamnya ke pundak. Didapatinya Rasyid masih terdiam. Setetes air mata mengalir di pipinya yang hitam penuh keringat. Segera ia menyapunya sebelum terlihat oleh Rasyid.

Tanpa melirik sedikitpun ke arah ibunya, Rasyid membiarkan tangannya digenggam. Tangan yang lain memainkan botol minuman yang hampir habis. Langkahnya terlihat berat. Lelah. Kesal. Tapi, tidak mungkin untuk melawan.

Sinar mentari semakin melemahkan langkah kaki. Telapak terasa sakit tercabik-cabik. Ibu martiyah terus berusaha mendiamkan Zahra yang terus menangis. Dan menenangkan Rasyid yang terus-terusan berseru, “Bu, lapar! Lapar, Bu!” Nafas terengah-engah. Suara melemah, serak. Tak mungkin meminta Allah untuk merubah qadrat.

“Bu, lapar!” seru Rasyid untuk kesekian kalinya. Dengan nada datar.

Ibu Martiyah memandang wajah Rasyid yang tampak pucat. Tak kalah pucat dengan wajahnya yang tak dapat ia lihat. “Iya. Nanti kalau ada warung makan,” jawabnya. “Sekarang kita ke masjid dulu, sebentar lagi dhuhur.”

***

Sucinya udara Ramadhan mengalunkan gaung adzan kembali memasuki masjid. Mentari yang mulai condong tak mengendorkan sengatannya. Merangsek dalam menembus kulit-kulit tenggorokan. Haus. Kering. Lemas.

Ibu Martiyah merasakan resapan air wudhu di dalam kulitnya. Sejuk. Meleburkan setiap butir-butir kotoran di pembuluh darah. Mengalir ke satu titik di dadanya. Membangkitkan ketenangan sekaligus kerinduan yang mampu menghanyutkannya ke dalam kekhusyu’an yang tuma’ninah. Membangkitkan rasa hina sekaligus percaya dalam setiap rayuan doa.

Rasyid dan Zahra berlarian di serambi masjid. Berebut botol air minum yang telah kosong. Setiap kali Zahra merengek, Rasyid mendekatkan botol air minum yang dipegangnya. Dan setiap kali adiknya hampir menjangkaunya, dengan cepat ia menjauhkan kembali botol itu. Wajah mereka bersinar di bawah atap masjid yang megah. Terlindung dari cahaya mentari yang membahana.

Rasyid menghampiri Ibu Martiyah yang telah berdiri di depan pintu beberapa saat lamanya. Bersembunyi di balik tubuh ibunya. Tergurat senyum di wajah hitam wanita yang telah menginjak tiga puluh tahun itu. Zahra menyusul dari belakang dengan larinya yang belum sempurna. Jatuh di pelukan ibunya.

Ketiganya duduk berdampingan bersandar ke dinding. Sekedar merenggangkan otot-otot yang tegang. Melepas keletihan. Tak jauh dari tas hitam yang sejak pagi “membuntuti” mereka. Ibu Martiyah menatap lekat setiap sudut pelataran masjid. Penuh dengan atribut. Bendera. Spanduk berisi slogan-slogan dan tulisan-tulisan. Di antaranya “Tutup Tempat-Tempat Maksiat”, “Segel tempat Hiburan Malam”. Satu per satu atribut itu mulai diambil. Dibawa ke dekat kumpulan orang-orang yang berkerumun di halaman masjid. Semakin lama warna putih semakin membanjiri halaman masjid. Ternyata tidak hanya laki-laki. Ibu Martiyah mendapati beberapa perempuan ikut dalam kerumunan itu dalam barisan tersendiri. Perempuan! Ibu Martiyah berusaha meyakinkan hatinya melihat cadar-cadar yang menutup setiap wajah perempuan di sana. Alhamdulillah, puji hatinya. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan kesusahan ini. Ya, mereka tentunya tidak kalah haus, lelah dan letih seperti yang aku rasakan. Aku berjanji akan mempertahankan puasaku ini. Aku tidak akan mengkhianati kalian, seru hatinya. Wahai saudaraku!

“Ayo! Kita lanjutkan perjalanan,” ujar Ibu Martiyah penuh semangat. Seakan-akan mendapat tambahan tenaga.

“Oke!” ujar Rasyid. Ia langsung berjingkak. Mengangkat kedua tangannya.

Ibu Martiyah tesenyum. Diulurkan kedua tangannya ke arah Zahra, “Zahra!” serunya.

Dengan senyumnya ia segera berlari ke arah ibunya. Sempoyongan.

Ibu Martiyah dengan kedua anaknya berjalan di sisi kerumunan yang terkonsentrasi di halaman masjid. Ia semakin yakin bahwa sebagian dari mereka adalah perempuan. Ya, hampir setengahnya. Ia melempar senyum ke arah mereka sebagai penyemangat dan dukungan kepada saudara-saudaranya. Entah apa yang mereka tangkap, Ibu Martiyah tetap tersenyum ke arah mereka. Mereka seakan-akan tidak melihat kehadirannya. Diam. Tak memandang. Tapi, Ibu martiyah tetap tidak ambil pusing. Senyuman itu pun sangat berarti bagi dirinya. Yah, pembangkit semangat dalam menjaga warisan suaminya, kedua anaknya.

Baru saja sampai di tepi jalan di depan masjid, Zahra merengek kepanasan. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengibaskan ujung selendang di dekat kepala Zahra yang berkerundung kecil putih. Kaki Ibu Martiyah seperti tidak kenal lelah. Ia terus berjalan sembari tidak melepaskan perhatian dari anak-anaknya sedikitpun.

***

“Bu!” seru Rasyid. Menepuk perutnya yang semakin merasakan lapar. “Katanya ke warung makan.” Rasyid mengarahkan tangannya ke deretan warung-warung di tepi jalan.

“Ayo!” seru Ibu Martiyah. Tak tega membiarkan anaknya dalam kelaparan. Berjalan ke arah yang ditunjuk Rasyid. Ia memasuki warung makan. Puluhan pasang mata serentak menatap sinis ke arahnya. Tatapan yang membuatnya merasa dipojokkan. Ia tidak menyangka akan ada orang sebanyak itu. Kenapa mereka menatapku –seperti itu? Apakah karena aku berjilbab?! Sehingga tidak pantas berada di sini –di bulan Ramadhan. Ataukah … Ya, mereka menatapku hanya karena simpati mendengar Zahra yang menangis keras, ujar hatinya meyakinkan dirinya. Tapi, masih saja tidak nyaman. Mengapa mereka hanya menatap? Bukankah lebih baik jika mereka berucap? Rasa malu dan gugup di hatinya mengantarkan kaki duduk secepat mungkin di kursi terdekat. Meja paling dekat dengan pintu. Paling dekat dengan dinding sekaligus dengan jendela. Tak henti-hentinya ia berusaha menenangkan Zahra, tapi tidak mungkin karena air susunya telah kering. Aku harus makan, tapi aku telah berjanji. Ini untuk anakku… Pikirannya mulai berkecamuk.

Pelayan datang. Membawa kertas dan alat tulis.

Ibu Martiyah menatap mata pelayan itu. Didapatinya tatapan yang sama seperti tatapan orang-orang di sana. Beralih ke wajah Rasyid yang duduk di depannya. Setelah mendapat isyarat dari ibunya, Rasyid memesan makanan yang ia inginkan. Kini, pelayan itu manatapnya lagi. Masih dengan tatapan yang sama. Ya Allah! Bukannya aku ingin mempermainkan ibadah ini, ucap hatinya datar. Memesan makanan.

Ibu Martiyah menatap keluar di sela-sela pintu yang terbuka. Sambil terus mengayun-ayunkan tangan menenagkan Zahra yang menangis tersedu-sedu. Kendaraan berlalu lalang dalam kebisingan. Gedung-gedung dan pertokoan berdiri kokoh di seberang jalan. Setiap kali ia menatap sudut-sudut ruangan itu, didapatinya tatapan seperti saat pertama ia datang. Secepat kilat ia memalingkan wajahnya ke luar. Dan yang didapatinya hanya gedung dan pertokoan.

Pelayan yang sama kembali. Ibu Martiyah tak mampu lagi menatap wajahnya. Tak ingin mendapati tatapan yang membuatnya merasa dipersalahkan. Pelayan meletakkan dua piring nasi di atas meja lengkap dengan lauknya serta dua gelas minuman. Tanpa pikir panjang, Rasyid menyambar makanan yang dihidangkan. Ibu Martiyah menggeleng dengan melempar senyum kecil ke arah Rasyid. “Baca doa dulu,” ucapnya.

Seketika Rasyid berhenti mengunyah. Dengan mulut penuh makanan ia menengadahkan tangan.

Melihat tingkah anaknya, Ibu Martiyah tersenyum. Ia tidak juga memakan makanannya. Ia menyuapi Zahra dengan beberapa nasi, tapi Zahra membuangnya kembali. Pikirannya bertambah semrawut. Ia berikan minuman, tapi tetap tidak mau. Malah, Zahra menangis lebih keras. Ia butuh air susu, bisik hatinya. Aku harus makan, tapi …Ingatannya kembali ke masjid tampat ia melihat kerumunan orang-orang serba putih.

Wahai Saudaraku! Maaf, bukannya aku ingin mengkhianati kalian. Apalagi mengingkari janji. Tapi, ini demi anakku.

Baru saja ia mendekatkan sendok ke mulutnya, terdengar jeritan dari luar. Berbaur dengan teriakan-teriakan dan tangisan. Ia urungkan niat untuk makan. Matanya mengikuti pelayan yang melangkah menuju pintu.

“Preman ngamuk! Preman ngamuk!!”

Suara gemuruh semakin dekat. Semakin jelas diselingi bunyi benturan benda-benda keras. Tiba-tiba dengan naluri laki-lakinya, Rasyid berlari mengikuti pelayan ke depan pintu. Jeritan, teriakan, tangisan dan benturan semakin keras. Semakin dekat….

“Ada ninja! NINJAAA!” seru Rasyid keras sesaat setelah ia dapat menyaksikan dengan jelas puluhan orang dengan penutup kepala terlihat beringas tak jauh darinya. Hanya terpisah beberapa kios saja. Ia segera berlari ke arah ibunya.

“RASYID!!” seru Ibu Martiyah menatap Rasyid yang terlihat begitu ketakutan.

Dan… sejurus kemudian. BRAKK!! Daun pintu melayang. Menimpa Rasyid yang mencoba berlari. Rasyid menjerit, tapi langsung hilang ditelan suara berisik.

Ibu Martiyah menjerit tak kalah kerasnya. Terperanjak. Ia hampir melangkah ingin menyelamatkan Rasyid. Tapi, puluhan orang-orang berbaju putih sekonyong-konyong masuk menginjak-injak daun pintu yang menimpa anaknya. Ia menutup mulutnya yang ingin menjerit. Ia hanya dapat menagis. Takut. Sedih. Ia segera menggendong Zahra merapat ke tembok. Dipalingkannya wajah Zahra ke pundaknya. Tak dibiarkan anaknya melihat peristiwa seperti itu.

Suasana semakin gaduh. Ruangan dipenuhi teriakan-teriakan lantang, “ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!”. “Ayo bakar! Ayo bakar!” seru sebagian lainnya. Berbaur dengan jerit ketakutan dan tangisan Zahra.

Tangis dan air mata menemaninya menghadapi apa yang terjadi. Ia memeluk erat tubuh Zahra yang menangis sejadi-jadinya karena ketakutan. Matanya masih mencoba meraih wajah Rasyid di balik kaki-kaki yang ada. Ia terus merapat ke tembok. Menyandarkan tubuhnya dalam cahaya mentari dari jendela. Tangisannya semakin membisu. Tatapannya semakin tak menentu. Badannya mulai melemah tapi dipaksakan untuk tetap tegar. Dadanya semakin berdebar. Ia mengelus-elus kepala Zahra yang makin kencang dalam tangisan. Ruangan itu kini dipenuhi warna putih dengan suara-suara gaduh di mana-mana. Terdengar kursi ditendang. Terdengar pukulan keras disusul jerit dan tangis.

Orang-orang ‘asing’ itu memukul setiap orang yang didapatnya. Tak peduli laki-lak dan wanita. Anak-anak maupun dewasa. Ibu Martiyah masih menangis –hanya itu yang ia bisa- diiringi pecahan-pecahan kaca diseluruh sudut.

Dipaksakan matanya untuk menatap sepasang mata di balik penutup muka. Mata yang garang. Penuh dendam. Sepasang mata dari puluhan mata yang ia lihat di masjid usai shalat dhuhur. Ya, ia dapat melihatnya dengan jelas. Sebelum akhirnya terdengar keras pecahan kaca jendela di belakangnya. Serpihannya terasa sakit di punggung. Menancap dalam, menembus kulitnya. Sekuat tenaga ia mengangkat wajah Zahra yang tiba-tiba menjerit keras. Tubuhnya bergetar. Nafasnya sesak. Aliran darah mengucur kencang. Tulang-tulang tubuhnya seakan-akan remuk. Menatap wajah Zahra yang terkoyak-koyak oleh kaca-kaca kecil di sekujur kepalanya. Tetesan darah segar membasahi tubuhnya. Melumuri telapak tangannya. Membuatnya tak mampu berbicara. Rasa sakit di dalan tubuh dan hatinya tak lagi tertahan. Perlahan ia terkulai. Tak ada seorang pun yang peduli. Alam berubah sunyi, tanpa bunyi. Ia hanya dapat melihat orang-orang berbaju putih yang masih berkeliaran garang. Menjerit tanpa suara. Berteriak tanpa kata. Berbuat tanpa rasa.

Terbesit wajah Rasyid yang terjepit. Berubah hitam kelam. Seditik kemudian, giliran wajah Zahra tergurat penuh luka. Dan kembali gelap. Tanpa suara, pikirannya kedap suara. Tiba-tiba muncul wajah suaminya … Berganti dengan orang-orang serba putih yang masih belum pulih dari kegilaan. Perlahan pandangannya mengabur. Pikirannya tuli. Dalam kondisi yang memperihatinkan, tetap tidak ada yang memperdulikan. Ia masih dapat melihat, meskipun pudar. Menyaksikan keganasan –di bulan Ramadhan. Sungguh aku tak lagi menyesal jika harus mengkhinati kalian, Saudaraku. Sayang, aku belum sempat makan, sesal hatinya. Seditik sebelum ia menutup matanya, terdengar jeritan Rasyid yang menyatu dengan tangisan Zahra.

***

“Sampai sekarang, polisi belum melakukan tindakan apapun kecuali memeriksa TKP beberapa saat lalu. Padahal peristiwa anarkis ini telah memakan korban jiwa sebanyak tiga orang. Kepolisian belum memberikan informasi mengenai pihak mana yang terkiat dengan kejadian ini. Dan sampai sekarang juga belum ada pihak-pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas insiden maut siang tadi.”

Layar televisi menampilkan sebuah sirang langsung. Seorang reporter pria dengan rambut cepak berbaju biru, berdiri tidak jauh dari TKP. Di belakangnya terlihat pita kuning bertuliskan “Garis Polisi” yang terpasang di sepanjang deretan rumah makan di tepi jalan. Gambar beralih ke sebuah lorong rumah sakit.

“Dari rumah sakit dilaporkan –.”

Seketika layar padam.

Seorang perwira polisi telah mematikan televisi di ruang kerjanya. Ia meletakkan remote control di atas meja. Tak ada ekspresi marah, tajut, benci maupun menyesal di garis-garis tegak wajahnya yang kotak. Dengan tenang, ia kembali menghisap rokoknya.

***

Sementara itu, di sebuah kamar rumah sakit, kamar dengan dinding berwana putih tanpa jendela, kecuali sepotong kaca yang terdapat di satu-satunya pintu di sana, terbujur tiga sosok tubuh di balik kain putih. Di beberapa titik, tampak tetesan darah. Di balik kain itu, tersembunyi satu wajah dengan senyum abadi terukir di kedua bibir yang selalu kering. Bibir Ibu Martiyah. Jauh di dalam sana –di hatinya – dapat didengar sekelumit ucapan,” Aku bangga dengan kalian anak-anakku. Bangga atas kesetiaan dan kepatuhan kalian dalam kebersamaan dan kesederhanaan yang kita lalui. Aku bangga pada keberanian dan ketabahan kalian.

Aku bangga dapat mengukir kebersamaan bersama kalian.

Suamiku, ketahuilah! Aku bangga karena Allah memanggilmu lebih dulu. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku yang meninggal lebih dulu. Bagaimana susahnya dirimu harus menyusui Zahra? Bagaimana kau dapat menjaga kedua anak kita setiap saat, sedangkan engkau harus bekerja?! Aku bahagia engkau tak harus mengalaminya. Allah sungguh adil dalam kehendak dan takdirnya. Namun, aku akan lebih bahagia jika kamu bersamaku menemani kami melewati jalan suci ini.”

puisi

September 11, 2008

Malam Hampa

Aku merenung dengan selimut malam
Memikirkan dirimu yang terbengkalai sendiri di rumah

Aku hanya menyampaikan kata rindu
Dari tiupan angin malam

Berharap engkau bisa menerima
Salam rindu yang t’lah ku kirim

Aku ingin bersama – samamu
Disaat selimut malam dingin dengan sepi ini

Di lembah dimana kesunyian dan hening berkawan dengan sejuta kesedihan
Kuhempaskan diriku dalam pelukan dingin sang kabut
Hingga kutemukan matahari
Dan membawa langkahku
Ditemani ilalang dan kerikil jalan yang menemani peluhku dan letihku
menuju titik akhirku mimpi panjangku

komputer

September 10, 2008

Tips Tips Mempercepat Proses Komputer Kita

1. Percepat Booting dan Ringankan beban CPU
Seiring dengan waktu, lama kelamaan PC terasa makin lambat dan ‘berat’. Apa saja yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya?

* Langkah pertama mempercepat boot via BIOS. Untuk keterangan selengkapnya, Anda dapat melihatnya pada “Menguak Tabir BIOS” di PC Media 04/2004 yang lalu.
* Selanjutnya mulai ke area operating system. Untuk Windows XP, mulai dengan membuka System Configuration Utility. Pada tab BOOT.INI, beri tanda (P) pada “/NOGUIBOOT”. Ini akan mempersingkat waktu boot dengan menghilangkan Windows startup screen. Pada tab Startup, seleksi ulang seminimal mungkin item yang sangat dibutuhkan. Hal yang sama juga dilakukan pada service yang dijalankan. Usahakan jumlah service yang ter-load tidak lebih dari 25.
* Windows XP memang tampak begitu memukau pada tampilannya. Jika kebutuhan utama Anda adalah kecepatan dan bukan keindahan, setting ulang interface ini dapat menambah kecepatan. Masuk ke System Properties, pilih tab Advanced. Setting ulang pada pilihan Performance. Kemudian pilih “Adjust for Best Performance” pada tab Visual Effects.
* Menghilangkan wallpaper dan minimalisasi jumlah desktop icon juga dapat mempercepat PC Anda. Kurangi jumlah desktop icon sampai maksimal lima buah.
* Menghilangkan bunyi pada event Start Windows juga akan mempercepat proses boot. Mau lebih cepat lagi? Pilih “No Sounds” pada sound scheme.
* Berapa jumlah font yang terinstal pada Windows Anda? Makin banyak jumlah font yang terinstal akan menambah berat beban kerja PC Anda. Windows secara default menyertakan sejumlah kurang dari 100 font. Usahakan jumlah font yang terinstal pada kisaran 150 font.
* Anda rajin meng-update driver? Bagus. Namun tahukah Anda, file-file yang digunakan driver lama Anda dapat memperlambat PC. Cara paling mudah menggunakan utility tambahan seperti Driver Cleaner. Utility ini membersihkan driver nVidia dan ATI terdahulu. Driver Cleaner 3.0, juga dapat membersihkan driver lama beberapa chipset motherboard, sound card, dan lain-lain.

2. Overclock
Ini bagian yang paling menarik. Pada bagian ini kami akan memandu overclocking, dengan mengandalkan beberapa software yang bisa di-download gratis dari internet.

Overclock Video Card
Overclocking pada video card, relatif mudah apalagi dengan Powerstrip.

* Anda bisa menggunakan Powerstrip dengan men-download dari www.entechtaiwan.net.
* Atur konfigurasi dari Performace profile, dengan klik kanan di tray icon.
* Anda akan melihat dua buah vertical slider. Slider kiri, control untuk core speed video card. Slider kanan merupakan control dari kecepatan memory video card.
* Tambahkan core speed video card secara bertahap (maksimal 2 Mhz). Lakukan tes stabilitas dengan memainkan game 3D atau menjalankan benchmark. Ulangi hal tersebut sampai core speed maksimal dari video card. Lakukan hal yang sama untuk memory clock. Kini Anda bisa menikmati frame rates baru yang lebih cepat secara gratis.

Overclock Motheboard
Untuk melakukan overclock terhadap motherboard sedikit berbeda. Anda harus menyesuaikan aplikasi sesuai dengan chipset motherboard. Di sini kami mengambil contoh overclocking dua buah motherboard. Pertama adalah motherboard dengan chipset nForce2.

3. Upgrade Processor
Sebelum membeli sebuah processor baru, pastikan bahwa motherboard yang Anda miliki mampu mendukung calon processor baru Anda (lihat tabel “Chipset dan Processor Support”). Selain itu, pastikan juga maksimum FSB untuk processor yang mampu didukung motherboard Anda. Hal ini juga berhubungan banyak dengan chipset yang digunakan pada motherboard Anda.

4. Cara mudah Ripping CD
Walaupun Anda sudah menggunakan aplikasi dan metode yang lain sebagai andalan untuk melakukan ripping CD Audio, namun tidak ada salahnya mencoba alternatif lain. Siapa tahu hasilnya akan jauh lebih baik dari yang selama ini Anda lakukan. Lagipula, software yang kami tawarkan di sini dapat Anda gunakan secara gratis.

Jika Anda ingin memiliki kumpulan MP3 music dengan kualitas yang baik kami memberikan beberapa buah tip. Di mana kunci utamanya terletak pada tiga buah komponen, yaitu:

* Sebuah program ripping yang tidak akan mengizinkan ekstraksi yang buruk dihasilkan. Artinya Anda tidak perlu mencek ulang satu per satu file hasil ripping yang dihasilkan secara manual.
* MP3 encoder yang baik dan mampu menghasilkan data audio dengan kualitas yang baik dengan kompresi file audio yang juga baik.
* Proses audio ripping nya sendiri yang cukup mudah untuk dilakukan.

Dengan proses yang terbilang sederhana, Anda akan mampu melakukan proses ripping dengan menggunakan LAME encoder. Termasuk juga cara mengatur nama, nomor, dan tag dari semua track yang ada dengan mudah.

Download EAC dan LAME Encoder
Yang akan digunakan di sini adalah sebuah software yang cukup mengesankan. Yaitu Exact Audio Copy (EAC), download aplikasi tersebut pada www.exactaudiocopy.de.

Tidak seperti aplikasi ripping lainnya, EAC dapat melakukan pemeriksaan ulang terhadap setiap bit data dengan source data. Tujuannya untuk memperoleh tingkat akurasi tinggi yang mampu mendekati CD Audio aslinya. Jika aplikasi tersebut menemukan perbedaan, maka aplikasi tersebut akan melakukan ripping ulang dan sekali lagi jika diperlukan.

Tentunya hal tersebut akan memperlambat proses ripping itu sendiri. Tapi dengan melihat dari hasil yang didapat, hal tersebut bukan lagi sebuah masalah. Perlu diingat, proses ripping ulang hanya akan dilakukan jika terjadi perbedaan. Bisa disebabkan karena CD yang tergores, ataupun adanya copy protection pada CD yang bersangkutan.

Anda juga akan memerlukan LAME Encoder, di mana encoder tersebut telah dikenal cukup lama sebagai MP3 encoder terbaik yang pernah ada. Hingga saat ini versi terbarunya adalah Lame 3.95.1. Anda dapat men-download-nya di http://mitiok.cjb.net. Setelah Anda mendapatkan kedua aplikasi tersebut, lakukan proses Unzip dan simpan ke dalam satu folder yang sama. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pencarian saat pertama kali menggunakan aplikasi EAC tersebut

ilmu komputer

September 10, 2008

Belajar Membuat Website

Dalam membuat sebuah website ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan sebelum Anda memulainya.

Pertama, Anda bisa mengajukan sebuah pertanyaan kepada diri Anda sendiri yaitu “Apa tujuan Saya membuat website?” dengan menjawab pertanyaan tersebut dapat mengarahkan pikiran Anda untuk menentukan dan menjawab pertanyaan selanjutnya yaitu, “Website seperti apa yang akan saya buat untuk mencapai tujuan tersebut dan bagaimana cara membuat websitenya.”

Mengapa dimulai dengan mengajukan pertanyaan tersebut? Karena diharapkan nantinya website yang kita buat sesuai dengan yang kita inginkan dan bisa membawa kita mencapai tujuan yang kita inginkan dalam membuat website. Jangan sampai website sudah selesai Anda buat tetapi website yang Anda buat tidak sesuai dan tidak bisa menjadi media atau sarana untuk mencapai tujuan Anda.

Perlu Anda ketahui, jenis website itu bermacam-macam, ada yang hanya satu halaman sederhana saja seperti website ini, ada yang memuat beberapa halaman seperti website perusahaan, ada yang menggunakan sistem blog dan sering disebut juga blog atau weblog (website blog), ada yang menggunakan sistem CMS (Content Management System) seperti joomla, ada yang berupa forum diskusi, ada yang berupa website iklan baris, ada yang berupa website toko online dan ada yang lebih kompleks lagi seperti website komunitas friendster.

Anda perlu memulainya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sebelum Anda membuat website. Sehingga nanti Anda bisa memutuskan website seperti apa yang paling cocok dan sesuai untuk mencapai tujuan Anda. Karena masing-masing jenis website yang saya sampaikan diatas memiliki fungsi yang berbeda-beda.

Contoh bila Anda ingin menjual berbagai macam produk, Anda membuat website toko online; bila Anda ingin menjual satu jenis produk saja bisa dengan satu halaman sederhana saja atau lengkap dengan menggunakan sistem pemesanannya; bila Anda ingin membuat website portal Anda bisa menggunakan Joomla; bila Anda ingin membangun branding dan mempublikasikan artikel bisa menggunakan blog; dan lain-lainnya.
Dan Anda bisa mendownload artikel lebih lanjut melalui link yang disediakan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda.

Hello world!

Agustus 28, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.